Khutbah Jumat 10 April – Waspadalah Terhadap Bidah dan Maksiat

KHUTBAH PERTAMA

Mukadimah

الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا،
من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له،
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.

  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ    

اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

Amma ba’du…

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Saya wasiatkan kepada diri saya pribadi dan kepada jamaah sekalian untuk senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,
dengan sebenar-benar takwa…
melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya,
baik di hadapan manusia maupun ketika sendirian.


Jamaah Jumat yang dirahmati Allah…

Di antara hakikat kehidupan manusia adalah bahwa kita tidak akan pernah lepas dari dosa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam pasti banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang banyak bertaubat.”

Hadits ini mengajarkan bahwa dosa adalah bagian dari tabiat manusia.
Namun yang membedakan kita adalah siapa yang mau kembali kepada Allah.


Hadirin yang dirahmati Allah…

Di antara tipu daya setan yang paling berbahaya adalah menjadikan seorang hamba berputus asa dari rahmat Allah.

Setan membisikkan supaya kita patah arang:
“Percuma.. Dosamu sudah terlalu banyak…”
“Sudah terlambat untuk berubah…”
“Allah tidak akan mengampunimu…” dan bisikan-bisikan yang semisalnya yang menghalangi seorang hamba dari bertaubat..
Padahal Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan melarang hamba-Nya berputus asa dari rahmat-Nya.


Kaum muslimin rahimakumullah…

Mari kita merenungi sebuah kisah agung yang diriwayatkan dalam sebuah hadis yang panjang yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim rahimahumallah, tentang seorang laki-laki yang berlumuran dosa. Ia telah membunuh 99 nyawa, namun di dalam hatinya masih ada sepercik cahaya yang rindu akan ampunan Rabbnya.

Ia lalu mendatangi seorang ahli ibadah dan bertanya, “Adakah pintu taubat bagiku?” Si ahli ibadah, yang sempit ilmunya, menjawab, “Tidak ada!”. Maka seketika si laki-laki tersebut naik darah dan dibunuhlah si ahli ibadah, akhirnya genaplah sudah 100 nyawa telah dicabut olehnya..

Namun, hidayah tetap menuntunnya kembali mencari, dan ia menemui seorang alim. Lalu.. Ketika pertanyaan yang sama diajukan, sang alim menjawab dengan hikmah:

“Siapa yang mampu menghalangi antara engkau dengan taubat kepada Allah?”

Laki-laki itu pun diminta melakukan satu hal: Hijrah. Tinggalkan lingkungan yang buruk, pergilah menuju negeri orang-orang shalih untuk beribadah di sana.

Ma’asyiral Muslimin,

Maka ia pun berangkat…
meninggalkan tanah tempat ia dulu bermaksiat…
melangkah dengan harapan agar bisa menebus dosa yang begitu berat…

Namun, jamaah yang dirahmati Allah…

Belum sampai ia ke negeri tujuan…
belum sempat ia memperbaiki amalan…
belum sempat ia menebus dosa-dosa dan kesalahan …

Maut keburu menjemputnya…
di tengah perjalanan…

Ia pun terjatuh…
dan wafat… sebelum sampai kota tujuan.


Lalu datanglah Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab…
keduanya berselisih tentang dirinya…

Jika kita melihat dengan pandangan manusia…
mungkin kita akan berkata:
“Iya ya, Catatan dosanya sudah jelas… sangat banyak…”
“Amalnya? belum ada… Bahkan hijrahnya pun belum sempurna, baru setengah perjalanan sudah meninggal dunia”

Namun, kaum muslimin rahimakumullah…

Allah melihat hati dan kejujuran taubat seorang hamba, serta amal yang ia usahakan menuju kebaikan…


Maka Allah pun memerintahkan bumi…

Agar mendekat…
ke arah tujuan kebaikannya…

Setelah diukur…

Dan ternyata…
ia lebih dekat…
meskipun hanya satu jengkal…

ke negeri orang-orang shalih…

Subhanallah…

Satu jengkal… yang memisahkan antara rahmat… dan azab…

Satu langkah niat… yang mengubah akhir kehidupan seseorang yang bertaubat…


Maka ia pun digolongkan sebagai ahli rahmat…

Ia wafat sebagai hamba yang kembali kepada Allah azza wajalla…

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang segera kembali…
sebelum maut menjemput kita… tanpa persiapan…


Penutup Khutbah 1

Maka janganlah kita menunda taubat…
dan jangan pula merasa aman dari dosa…

Segeralah kembali kepada Allah azza wajalla
selagi pintu taubat masih terbuka…

أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى

، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له،
وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.

اللهم صل وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Amma ba’du…

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ

Ushīkum wa iyyāya bitaqwāllāh, faqad fāzal-muttaqūn.


Hadirin yang dirahmati Allah…

Pada khutbah pertama telah kita dengarkan…
betapa luasnya rahmat Allah  bagi hamba yang mau bertaubat dari maksiat..

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Berikut beberapa faidah yang bisa kita ambil dari Kisah Taubat Si Pembunuh 100 Orang

1. Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni
Selama seorang hamba mau bertaubat dengan sungguh-sungguh.

2. Pentingnya ilmu sebelum berkata dan beramal
Ilmu yang benar akan menyelamatkan seseorang.
Adapun kebodohan bisa mencelakakan, bukan hanya diri sendiri, tetapi juga orang lain.
Lihatlah bagaimana seorang ahli ibadah yang awam atau tidak cukup ilmu justru memberikan fatwa yang salah, hingga menyebabkan terbunuhnya satu jiwa lagi.

Ini menjadi pelajaran bagi kita:
bahwa berbicara dalam agama harus dengan ilmu.
Tidak cukup hanya semangat ibadah, tetapi harus dibangun melalui pemahaman yang benar yakni kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah di atas pemahaman salaful ummah.


3. Lingkungan yang baik membantu istiqamah

Seseorang yang sendirian, lemah imannya, sangat mudah tergelincir…
sebagaimana domba yang terpisah dari kawanannya akan mudah diterkam serigala.

Demikian pula seorang muslim, jika berada di lingkungan yang buruk…
sedikit demi sedikit ajakan kepada kemaksiatan akan menggoyahkan pertahanan dan melemahkan iman. Dan pada akhirnya mengembalikan ia kepada keburukan

Karena itu, hijrah atau berpindah ke lingkungan yang baik adalah bagian dari usaha menjaga agama.
Agar seseorang tidak terombang-ambing antara ketaatan dan kemaksiatan,
dan semoga Allah menjaga kita semua , dan memberi taufik hingga mendapati husnul khatimah.

4. Niat yang jujur sangat bernilai di sisi Allah.

Meskipun laki-laki tersebut belum sampai ke negeri tujuan,
namun karena kejujuran niatnya untuk bertaubat,
Allah tetap memasukkannya ke dalam golongan orang yang mendapat rahmat.

Ini menunjukkan bahwa Allah melihat hati dan kesungguhan seorang hamba dalam kembali kepada-Nya.

Maasyirol muslimin rahimakumullah

Pada kali ini khatib menghimbau kepada jamaah sekalian, untuk berhati-hati terhadap penyimpangan dalam beragama.

Ilustrasinya ialah ketika kita melihat ada seorang yang buta.. sedang berjalan menuju sebuah jurang yang dalam dan berbahaya…

Jika ia terus melangkah… maka niscaya ia akan terjatuh dan binasa…

Maka apa yang akan anda lakukan?

Tentu kita akan menahannya dan memperingatkannya…

“Wahai saudaraku… berhentilah… di depanmu ada bahaya…”

Inilah bentuk kasih sayang…

Adapun membiarkannya, atau bahkan membenarkan jalannya…
adalah bentuk kelalaian yang membahayakan. Dan kita sepakat, membiarkannya terjerumus ke jurang tanpa mengingatkan, adalah bentuk kebiadaban.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah…

Demikian pula apabila kita melihat saudara kita yang muslim, namun melakukan ritual yang sama sekali tidak diajarkan oleh Rasulullah ﷺ… seperti memukul-mukul dada sendiri di hari Asura, menusuk dada, menyabet-nyabet punggung sendiri dan kepala hingga terluka..

Tetapi anehnya mereka menganggap perbuatan menyakiti diri ini sebagai ibadah…

Hadirin yang dirahmati Allah…

Di sinilah para ulama menjelaskan… bahwa bid’ah lebih berbahaya daripada maksiat.

Mengapa? Karena pelaku maksiat bahkan dosa besar seperti pembunuh 100 nyawa tadi dia sadar, sadar bahwa dirinya melakukan perbuatan yang salah. Dimana hal tersebut membuat hatinya gundah dan gelisah, maka berangkat dari sini masih ada harapan taubat baginya…

Namun pelaku bid’ah…
ia merasa dirinya sedang berbuat kebaikan…
merasa sedang beribadah… ia merasa benar, lah wong aku bener lagi ngibadah

Maka bagaimana ia akan bertaubat…
sementara ia tidak merasa bersalah?

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah…

Islam adalah agama yang sempurna…
agama yang penuh rahmat…

Tidak ada satu pun bentuk ibadah…
yang mengajarkan menyakiti diri sendiri…

Allah subhanahu wata’ala tidak membutuhkan ibadah seperti itu…
dan Rasulullah ﷺ tidak pernah mencontohkannya…

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Maka wajib bagi kita untuk berhati-hati…

Jangan sampai kita beribadah… namun tidak sesuai dengan tuntunan sunnah sebagaimana yang dimaksud imam Ibnu Katsir rohimahullah:

عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ

 Mereka adalah orang-orang yang banyak beramal dan bersungguh-sungguh, namun amalnya tidak diterima karena tidak di atas iman dan sunnah.

Karena setiap amalan harus memenuhi dua syarat untuk bisa diterima Allah azza wajalla:

  • Ikhlas karena Allah
  • Mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ

Kaum muslimin yang dirahmati Allah…

Mari kita jaga diri kita dan keluarga kita…

Dari kemaksiatan yang berkelanjutan
dan dari penyimpangan praktik bid’ah dalam beribadah yang membinasakan

Mari kita belajar agama dengan sebenar-benarnya..
berpeganglah kepada Al-Qur’an dan Sunnah…
diatas pemahaman para salaful ummah..

Penutup

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات، والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات.

اللهم تب علينا توبة نصوحاً، واغفر لنا ذنوبنا كلها،
واجعل بلادنا إندونيسيا بلداً آمناً مطمئناً،
وانصر إخواننا المسلمين في فلسطين، وفي كل مكان.


Allāhumma tub ‘alainā taubatan naṣūḥā, waghfir lanā dzunūbanā kullahā,
waj‘al bilādanā Indūnīsiyā baladan āminan muṭma’innan,
wanṣur ikhwananal muslimīn fī Filasṭīn, wa fī kulli makān.


ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عباد الله…
إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى، وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي، يعظكم لعلكم تذكرون.

فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم،
ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.

Comments

Satu tanggapan untuk “Khutbah Jumat 10 April – Waspadalah Terhadap Bidah dan Maksiat”

  1. Avatar A WordPress Commenter

    Hi, this is a comment.
    To get started with moderating, editing, and deleting comments, please visit the Comments screen in the dashboard.
    Commenter avatars come from Gravatar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *